Analisis Faktor yang Mempengaruhi Waktu Tunggu Operasi Elektif di Rumah Sakit Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar

ABSTRAK

MUHAMMAD NURUSSALAM. Analisis Faktor yang Mempengaruhi Waktu Tunggu Operasi Elektif di Rumah Sakit Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar (dibimbing oleh Widodo J. Pudjirahadrjo dan Nurshanty S. Andi Sapada).

Perkembangan IPTEK dan meningkatnya tingkat pendidikan serta pengetahuan masyarakat, menuntut pihak manajemen RS  memberikan pelayanan yang berkualitas pada setiap proses penyampaian pelayanan kepada pasien.  Salah satu indikator mutu pelayanan rumah sakit adalah waktu tunggu operasi elektif.

Penelitian ini bertujuan menganalisis (1) faktor-faktor yang mempengaruhi waktu tunggu operasi di Rumah Sakit Dr. Wahidin Sudirohusodo, dan (2) faktor yang paling dominan mempengaruhi waktu tunggu operasi di Rumah Sakit Dr. Wahidin Sudirohusodo.

Penelitian ini dilaksanakan di Rumah Sakit Dr. Wahidin Sudirohusodo dengan metode time and motion study.  Populasi yang diteliti adalah pasien yang akan menjalani operasi secara elektif (200 pasien/bulan). Jumlah sampel sebanyak 67 orang yaitu pasien bedah 47 orang (70%), Mata 13 orang (20%) dan THT 7 orang (10%). Data di analisis dengan menggunakan analisis statistik untuk mencari nilai mean, Standard Deviasi, minimum  dan maximum kemudian dilakukan uji regresi berganda untuk melihat faktor yang paling dominan mempengaruhi waktu tunggu operasi elektif.

Hasil penelitian menunjukkan lama pemeriksaan penunjang 60.02 jam, konsultasi  127.75 jam, parade 181.22 jam, administrasi 33.04 jam, dan acc anestesi 9.47 jam. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa faktor pasien, pelaksana operasi, pemeriksaan penunjang, konsultasi, parade, administrasi,  acc anestesi dan fasilitas operasi berpengaruh terhadap waktu tunggu operasi elektif.  Hanya faktor ruang operasi yang tidak mempunyai pengaruh pada pelaksanaan operasi elektif.

Kata Kunci: waktu tunggu, operasi elektif.

ABSTRACT

Muhammad Nurussalam. The analysis of factors that influence the waiting time of elective operation in dr. Wahidin Sudirohusodo hospital Makassar (supervised by Widodo J. Pudjihardjo and Nurshanty S. Andi Sapada).

The development of technology and information, the improvement of the level of education and the increasing knowledge of the people, has urged the hospital management to provide qualified health service to the patient. One indicator of service quality at the level of the hospital is the waiting time of elective operation.

The aim of this research is to analyze (1) factors that influence the waiting time in the operation room in dr. Wahidin Sudirohusodo hospital, and (2) the dominant factors that influence the waiting time in the dr. Wahidin Sudirohusodo hospital.

The method of this research is time and motion study. Population is the patients of elective operation i.e. 200 patients/month. The number of sample is 67 patients taken from surgery patient 47 patients (70%), the eyes surgery 13 patients (20%), and THT surgery is 7 patients (10%). The data is analyzed to get the result of the mean, standard deviation, minimum and maximum, and then the data is analyzed using double regression test to identify dominant factors that influence the waiting time of elective operation.

The result of the research shows that the waiting time at the diagnostic examination is 60.02 hours, consultation is 127.75 hours, parade is 181.22 hours, administration is 33.04 hours, and acc anesthesia is 9.47 hours. There are many factors that influence the waiting time in the elective operation such as patient-related factor, the operator of the operation room, diagnostic examination, consultation, parade, administration, acc anesthesia, and operation room facilities. The result shows that only operation room facilities that have no significant effect to the elective operation.

Keywords: waiting time, elective operation.

Kesimpulan

1.       Pasien yang menjadi sample penelitian  sebagian besar termasuk kelompok umur 17 – 55 tahun (55.2 %).  Jenis kelamin terbanyak adalah laki-laki (62.7 %) sedangkan asal pasien terbanyak adalah pasien yang berasal dari poli (62.7 %).  Adapun kelas perawatan terbanyak yang ditempati oleh pasien adalah kelas 3 (35.8 %) .  Menurut status pasien, pasien terbanyak adalaha pasien askes (50.7 %) dan ruang rawat/bagian bedah merupakan bagian yang paling banyak mengirimkan pasien untuk operasi elektif (70.1 %).  Kriteria operasi yang paling banyak pada penelitian ini adalah operasi besar (61.2 %).  Dari seluruh sampel penelitian, 85.1 % pasien tidak mengalami tunda operasi.  Alasan tunda operasi terbanyak adalah karena kondisi pasien yang tidak stabil yaitu sebanyak 50 % dari semua pasien yang tertunda operasinya.

2.       Faktor pasien dalam hal ini yaitu kondisi tidak stabil, setelah menjalani  uji statistik, didapatkan bahwa faktor pasien tidak berpengaruh terhadap waktu tunggu operasi.  Hal ini dimungkinkan terjadi karena sedikitnya jumlah responden yang mengalami tunda operasi akibat kondisi tidak stabil yaitu hanya 5 orang pasien dari 10 orang pasien yang mengalami penundaan  operasi. Walaupun hanya sedikit pasien yang tertunda operasinya karena hal ini, Namun tidak dapat dipungkiri bahwa faktor ini berpotensi menyebabkan lamanya waktu tunggu operasi akibat tidak stabilnya kondisi pasien. Pasien yang berasal dari ruang perawatan (IRNA) mengalami waktu tunggu operasi elektif yang lebih panjang dari pasien poli karena jenis penyakitnya cenderung lebih kompleks dimana waktu tunggu pasien IRNA adalah 302.21 jam sedangkan pasien poli 116.74 jam. Berdasarkan status pasien, peserta askes lebih lama menunggu operasi elektif dibandingkan pasien umum dan JPS dimana waktu tunggu pasien askes 200.56 jam sedangkan pasien umum 185.09 jam dan pasien JPS 155.81 jam.  Kasus bedah cenderung lebih lama karena persiapan yang dilakukan lebih bersifat kompleks dibandingkan operasi pada THT dan mata dimana waktu tunggu pasien bedah 223.51 jam sedangkan pasien THT 38.79 jam dan pasien mata 129.39 jam. 

3.       Faktor pelaksana operasi tidak dapat dihitung secara statistik karena tidak memenuhi syarat uji statistik.  Hal ini terjadi karena jumlah pasien yang mengalami tunda operasi karena operator yang tidak siap hanya 1 orang saja.  Namun, faktor pelaksana operasi yang terdiri dari dokter ahli selaku operator pembedahan, dokter ahli anestesi, asisten operator dan penata anestesi,   berpotensi menyebabkan tertundanya operasi apabila salah satunya tidak hadir pada saat pelaksanaan operasi.

4.       Faktor pemeriksaan penunjang dalam hal lama waktu menunggu mulai dari MRS sampai menerima pelayanan pemeriksaan penunjang didapatkan hasil yang bermakna (nilai p 0.003) dengan waktu tunggu selama 60.02 jam. Namun dari segi lama pemeriksaan penunjang, didapatkan bahwa faktor  pemeriksaan penunjang tidak memiliki pengaruh terhadap waktu tunggu operasi elektif (nilai p 0.226) dengan waktu tunggu selama 8.70 jam.

5.       Uji regresi faktor konsultasi pada waktu pasien mulai MRS sampai pelaksanaan konsultasi didapatkan nilai p 0.003 dengan waktu tunggu selama 127.75 jam sehingga hasilnya bermakna namun dari segi lamanya proses konsultasi berlangsung didapatkan nilai p 0.263 dengan waktu tunggu selama 2.96 jam dimana hasil ini menyatakan bahwa lama proses konsultasi tidak mempunyai pengaruh terhadap waktu tunggu operasi elektif.

6.       Faktor parade memiliki pengaruh terhadap waktu tunggu operasi elektif bila dihitung sejak pasien masuk rumah sakit sampai menjalani parade (nilai p 0.001).  Hal ini dikarenakan frekuensi parade yang sangat sedikit dimana dalam satu minggu hanya dilakukan satu kali sehingga pasien yang datang setelah waktu parade, harus menunggu waktu parade berikutnya. Lama pasien menunggu parade, rata-rata 181.22 jam.

7.       Faktor administrasi dimana proses ini imulai sejak pasien didaftarkan untuk operasi sampai siap operasi didapatkan bahwa faktor administrasi berpengaruh terhadap waktu tunggu operasi elektif (nilai p 0.009).  Hal ini dapat disebabkan karena kelambatan atau kurang lengkapnya isi berkas (status pasien), proses pengurusan yang rumit serta ketidaksiapan pihak pasien dalam hal pembiayaan operasi sehingga pasien membutuhkan waktu untuk menyediakan biaya operasi tersebut. Proses administrasi selesai dalam waktu rata-rata 33.04 jam.  

8.       Faktor acc anestesi yang diukur sejak daftar operasi sampai mendapat acc anestesi (nilai p 0.020) dengan lama waktu tunggu  9.47 jam dan lama proses acc anestesi (nilai p 0.042)  dengan lama waktu tunggu 4.79 jam, menunjukkan bahwa ke dua hal tersebut memiliki pengaruh terhadap waktu tunggu operasi elektif.

9.       Faktor ruang operasi pada penelitian ini tidak menjadi faktor yang mempengaruhi waktu tunggu operasi karena tidak ada pasien yang tertunda operasinya karena masalah di ruang operasi. Namun apabila ruang operasi tidak dipersiapkan secara baik serta dijadwalkan penggunaannya dengan tepat maka hal ini berpeluang mempengaruhi waktu tunggu operasi elektif.

10.   Faktor fasilitas operasi walaupun dengan uji statistik tidak bermakna, namun beberapa penundaan operasi terjadi akibat ketidaksiapan fasilitas operasi baik masalah gangguan listrik maupun tidak adanya bahan bakar. Sehingga pada penelitian ini, faktor ini mempunyai pengaruh terhadap waktu tunggu operasi elektif. Jumlah pasien yang mengalami tunda operasi karena hal ini adalah sebanyak 4 orang pasien.

11.   Dengan uji regresi berganda, didapatkan hasil bahwa faktor parade merupakan faktor yang mempunyai pengaruh terbesar terhadap waktu tunggu operasi elektif dimana nilai koefisien korelasinya adalah 0.969.  Hal ini terjadi karena frekuensi parade yang sangat kurang sehingga pasien harus menunggu lama (rata-rata 181.22 jam) untuk menunggu dilakukannya parade pada dirinya. 

Saran

1.       Pihak manajemen rumah sakit bekerjasama dengan dokter rumah sakit membuat panduan mengenai pemeriksaan penunjang apa saja yang harus segera dilakukan berdasarkan jenis penyakit ataupun rencana tindakan sehingga pasien tidak harus menunggu lama sampai diputuskan untuk menjalani pemeriksaan penunjang.

2.       Pembuatan panduan konsultasi wajib yang harus dilalui oleh seorang pasien yang akan di operasi sehingga pada awal masuk rumah sakit, agar kegiatan konsultasi dapat segera dilaksanakan.  Adapun konsultasi yang bersifat khusus (misal karena pasien menderita suatu kelainan), dilaksanakan sesuai keperluan.

3.       Menambah frekuensi parade sehingga pasien yang akan menjalani operasi tidak perlu menambah hari perawatannya hanya karena menunggu untuk di parade terlebih dahulu di jadwal parade berikutnya.  Pelaksanaan parade sebaiknya dibudayakan ke bagian lain karena hal ini akan menambah kualitas pelayanan dalam hal ketepatan diagnosis dan ketepatan pilihan jenis tindakan sehingga diharapkan hasil operasi pada pasien  tersebut akan baik.

4.       Perbaikan sistim administrasi berupa penyederhanaan prosedur pengurusan maupun kemudahan pengisian format laporan sehingga petugas tidak mengalami kesulitan dalam menyelesaikan pekerjaannya.  Perlu diadakan pelatihan khusus bagi petugas di perawatan dalam hal pengisian dan penyusunan berkas sehingga ada keseragaman baik isi maupun susunan berkas pada status pasien yang pada akhirnya akan mempermudah bagi semua penggunanya. Bagi pasien,  kemudahan dan kejelasan alur pengurusan juga merupakan hal yang sangat penting diperhatikan oleh pihak rumah sakit.

5.       Pembagian tugas di bagian anestesi dimana sebagian dokter bertugas di ruang operasi dan sebagian lagi bertugas menjawab permintaan acc anestesi pada pasien yang akan menjalani operasi. Pembagian tugas ini bertujuan agar pasien tidak perlu menunggu dokter anestesi menyelesaikan tugasnya di ruang operasi sampai sore hari.  Selain itu, dokter anestesi yang bertugas di ruang operasi tidak dibebani dengan harus memeriksa pasien setelah selesai operasi.

6.       Pembentukan tim penilai kinerja unit dan antar unit sehingga adanya gangguan dini pada unit maupun kerjasama antar unit dapat segera dideteksi dan segera dapat dicarikan penyelesaiannya. 

7.       Bagi peneliti lain, penulis menganjurkan agar penelitian selanjutnya lebih spesifik sehingga pembahasan penelitian dapat lebih mendalam.  Dalam melakukan penelitian dengan metode time and motion study, hendaknya peneliti mencatat dengan teliti semua temuan dilapangan dan melakukan wawancara secara mendalam apabila menemukan hal yang tidak jelas penyebabnya.

DAFTAR PUSTAKA

Aditama, T. Y., 2003, Manajemen Administrasi Rumah Sakit, edisi 2, Ui-Press, hal. 7-8

Cortes, C. D., Calculating waiting times retrospectively, Canadian medical association, (online), (http://www.cmaj.ca , diakses 5 Januari 2006)

Health division,  Review of elective surgery waiting list,  Departement of human services, Victoria hospital, Australia,  (online), (http://www.health.gld.vic.gov.au , diakses 5 Januari 2006)

Ilyas, Y., 2003, Kiat sukses Manajemen Tim Kerja, Gramedia, hal. 105-120

Jan, F. A., Tabish, S. A., Qazi, S., Atif, M. S., 2003, Time Utilization of Operating Rooms at a Large Teaching Hospital, Journal of The Academy of Hospital Administration, (Online), Vol. 15, No.1, (http://www.indmedica.com, diakses 7 Juni 2005).

Komputer, wahana, 2003, Pengolahan data statistik dengan SPSS 11.5, Selemba infotek, Jakarta

Kumar, R., 2003, Operation room utilization at AIIMSA prospective study,  Journal of the academy of hospital administration, (online),  JAHA vol. 15, no. 1 January-June 2003, (http://www.indmedica.com, diakses 2 Januari 2006).

Martin, S., 2001,  Modelling waiting time of elective surgery, centre of health economics, (online), (http://www.yorc.au.uk , diakses 2 Januari 2006)

Martin, S., 2003, Waiting time for elective surgery : A hospital based approach, Centre for health economics, university of york, (online), (http://www.york.au.uk , diakses 3 Januari 2006)

Pratiknya A. W., 2003, Dasar-dasar metodologi penelitian kedokteran dan kesehatan, PT. Raja grafindo Persada, Jakarta

RSWS, 2005, buku laporan kegiatan RSWS bulan Januari-Juni tahun 2005, RSWS, Makassar

Sabarguna, H. B. S., Sumarni, 2003, 1, Sumber Daya Manusia Rumah Sakit, Konsorsium RS Islam Jateng-DIY, hal. 40-43

Sabarguna, H. B. S., 2004, 2, Quality Assurance Pelayanan Rumah Sakit, Konsorsium RS Islam Jateng-DIY, hal. 3

Sampalis, J., 2001, Impact of waiting time on the quality of life of patient awaiting CABG, Dept. of surgery and the division of clinical epidemiology, McGill University and Montreal Heart Institute, CMAJ, (online), (http://cmaj.ca , diakses 2 Januari 2006)

Simanjuntak, P. J., 2005, Manajemen dan Evaluasi Kinerja, Lembaga Penerbit FKUI,  Jakarta

Singarimbun, M., Effendi, S., 1989, Metode Penelitian SurvaiI, edisi revisi, LP3ES, Jakarta

Smith, P., 2002,  Waiting times – the role of hospitals,  the university of york, (online), (http://www.yorc.ac.uk , diakses 5 Januari 2006)

Sobolev, B., Use of waiting-time data to study access to elective care,  Journal of  The Queen’s University, (online), (http://chspr.queensu.ca/waittime.pdf, diakses 8 Juni 2005)

Soeroso, S., 2003, Manajemen Sumber Daya Manusia di Rumah Sakit, Suatu pendekatan,  EGC, Jakarta

Tjiptono, F., 2004, Manajemen Jasa, Andi Yogyakarta, hal. 51: 142-144

Umar, H., 2003, Evaluasi kinerja perusahaan, PT Gramedia Pustaka Utama, Yakarta

Zanbar, S. A., 2005, Ilmu statistika, Pendekatan teoritis dan aplikatif sisertai contoh penggunaan SPSS, Rekayasa Sains, Bandung

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: