Analisis Pendekatan Relative Value unit Versus Activity Based Costing (ABC) di kamar Operasi Rumah Sakit Pelamonia Makassar Tahun 2005

ABSTRAK

Siti Hasanah Nasution, Analisis Pendekatan Relative Value unit Versus Activity Based Costing (ABC) di kamar Operasi Rumah Sakit Pelamonia Makassar Tahun 2005 (Di bimbing oleh (Alimin Maidin dan Fridawaty Rivai)

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui biaya satuan perjenis tindakan (Relative Value Unit) dan analisis ABC dalam rangka perhitungan subsidi pihak Komando dan YANKES MASUM pelayanan kesehatan di Kamar Operasi Rumah Sakit Pelamonia Makassar.

Penelitian survei deskriptif Sampel penelitian ini adalah Semua biaya transaksi yang berkaitan dengan biaya investasi, biaya operasional tetap, biaya operasional tidak tetap serta jenis tindakan yang dilakukan di Kamar Operasi serta semua bantuan komando yang diberikan untuk pelayanan di Rumah Sakit Pelamonia Makassar Tahun 2005.

Dari penelitian ini diperoleh hasil sebagai berikut :

1.       Biaya Tetap (Fixed Cost) terbesar di Rumah Sakit Pelamonia adalah biaya gedung dengan AIC (Annualized Investment Cost) sebesar Rp. 233,452,335 dan terkecil adalah alat non medis Rp. 38,250,940.

2.       Biaya Operasional Tetap (Semi Fixed Cost) terbesar di Rumah Sakit Pelamonia adalah biaya gaji pegawai sebesar Rp. 1.099,514.400 dan terkecil adalah biaya pemeliharaan alat non medis Rp. 3,825,094.

3.       Biaya Operasional tidak tetap ( Vaiable cost) terbesar di Rumah Sakit Pelamonia adalah biaya bahan habis pakai medis sebesar Rp. 67,842,453 dan terkecil adalah pemakaian telepon Rp. 3,825,094.

4.       Terdapat 3 Biaya Total (Total cost). Untuk total cost 1 terbesar adalah pusat biaya kantor yakni Rp 839,549,159 dan yang terkecil yakni pada pusat biaya laundry Rp 150,765,047. Untuk total cost 2 terbesar terdapat pada pusat biaya kantor yakni Rp674,105,083 dan yang terkecil terdapat pada pusat biaya laundry Rp 115,188,130, untuk total cost 3 terbesar terdapat pada pusat biaya Kamar Operasi yakni Rp 117,196,895 dan yang terkecil pada pusat biaya laundry Rp 15,934,038.

5.       Nilai RVU per jenis tindakan terbesar adalah tindakan Hernia Incar cerata dan terkecil adalah Cystectomy.

6.       Biaya satuan (unit cost) 1,2 dan 3 perjenis tindakan berdasarkan metode ABC dan RVU mempunyai hasil yang sama yaitu biaya tindakan tyerbesar pada tindakan Hysterectomy dan terkecil Reparasi Fistel

7.       Biaya cost sharing di Kamar Operasi RS Pelamonia adalah sebesar 34,66%, bantuan Komando Rp. 52,30% dan YANKESMASUM sebesar Rp. 11,44%.

Kata kunci : Relative Value unit, Activity Based Costing, Yankemasum dan bantuan komando

ABSTRACT

SITl HASANAH NASUTION. Analysis of Relative Value Unit Versus Activity Based Costing at the Operation Room Pelamonia Hospital in Makassar in 2005. (Supervised by Alimin Maidin and Fridawaty Rivai).

The aim of this research was to analyze the amount of unit cost per type of intervention using the method of Relative Value Unit (RVU) and Activity Based Costing (ABC) in order to calculate the amount of subsidy from Commando Aid as well as YANKES MASUM at the Operation Room Pelamonia Hospital in Makassar.

The study was a descriptive-survey study. The sample used in the study was the Investment Cost, Fixed Cost, Semi variable Cost and the type of intervention as well as the Commando Aid at the Operation Room Pelamonia Hospital in Makassar.

The results of the study indicate that:

1.       The largest Fixed Cost is on the building cost with Annualized Investment Cost (AIC) as much as Rp. 233,452,335; whereas the smallest Fixed Cost is on non-medical equipment Rp. 38,250,940.

2.       The largest Semi Fixed Cost is on the salary of the employees as much as Rp.1.099,514,400; whereas the smallest Semi Fixed Cost is on the maintenance of non-medical equipment Rp. 3,825,094.

3.       The largest Variable Cost is on daily  medical  material  as  much  as  Rp. 67,824,453; whereas the smallest Variable Cost is on the phone bill as much as Rp. 3,825,094.

4.       There are 3 Total Costs. The largest total cost 1 is an the office expenses as much as Rp. 839,549,159; whereas the smallest cost is on the laundry expenses Rp. 150,765,047. The largest total cost 2 is on the office expenses as much as Rp. 674,105,083; whereas the smallest cost is on the laundry expenses Rp. 115,188,130. The largest total cost 3 is on the operation expenses as much as Rp. 117,196,895; whereas the smallest cost is on the laundry expenses Rp. 15,934,038.

5.       The largest RVU per-type of intervention is on Hernia Incar Cerata; whereas the smallest RVU is on Cystectomy.

6.       The unit cost 1,2 and 3 per type of intervention based on ABC and RVU methods produces the same result i.e. the largest expenses is on Hysterectomy; whereas the smallest expenses is on Fistula Repair.

7.       The percentage of Cost Sharing at the Operation Room is covered by each institution i.e. Pelamonia Hospital 34,66%, Commando Aid 52,30% and YANKESMASUM 11,44%.

Keywords:    Relative Value unit, Activity Based Costing, Yankemasum and Commando Aid.

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dijelaskan pada Bab – Bab sebelumnya maka kesimpulan yang dapat ditarik dari penelitian ini antara lain, adalah:

1.       Biaya Satuan Berdasarkan Relative Value Unit. Pada penelitian ini dilakukan perhitungan unit cost dengan dua metode  yaitu RVU dan ABC. Untuk RVU ada tiga komponen yang menjadi kajian yaitu UC1 dengan TC1 memperhitungkan 3 (tiga) komponen yaitu Fixed Cost, Semi Fixed Cost dan Variabel Cost. Dari penelitian ini terlihat bahwa biaya satuan yang terbesar di Kamar Operasi adalah terdapat pada tindakan Hysterectomy dan yang terkecil adalah tindakan Reparasi Fistel Tingginya biaya satuan baik UC 1, 2 dan 3 pada tindakan Hysteresctomy  disebabkan karena besarnya biaya bahan habis pakai yang di gunakan selain itu output pada tindakan ini relative lebih kecil. Sedangkan untuk tindakan Reparasi Fistel Biaya satuan lebih rendah karena biaya bahan habis pakai lebih kecil sementara outputnya lebih banyak sementara kita ketahui bahwa biaya satuan suatu tindakan sangat dipengaruhi oleh besaran output. Semakin tinggi outputnya maka ada kemungkinan semakin rendah biaya satuannya, begitupun sebaliknya semakin rendah outputnya maka akan semakin tinggi biaya satuannya.

2.       Biaya satuan Berdasarkan Activity Based Costing Yaitu suatu metode perhitungan unit cost yang diperoleh dengan  mengelompokkan seberapa  banyak kemasan dan harga  bahan habis pakai  perjenis tindakan, biaya penggunsn listrik dan air  serta  menghitung AIC alat kesehatan yang digunakan, dengan menghitung jasa pelayanan dengan proporsi 40 : 60. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa biaya satuan terbesar berdasarkan metode Activity Based Costing di Kamar Operasi biaya satuan terbesar terdapat pada tindakan Hysterectomy dan yang terkecil terdapat pada tindakan Reparasi Fistel. Tingginya biaya satuan untuk hysterectomy disebabkan karena banyaknya bahan habis pakai dan alat kesehatan habis pakai yang di gunakan pada tindakan tersebut selain itu jasa medis relatif lebih tinggi.

3.       Presentase dana bantuan komando dan dana YANKES MASUM untuk seluruh pelayanan di Rumah Sakit Pelamonia adalah Bantuan Komando (Pemerintah) sebesar 52.30%, dana YANKES MASUM sebesar 11.44 % dan Cost Sharing sebesar 34,66%

4.       Selisih unit cost bantuan Komando dan dana YANKES MASUM untuk tindakan operasi berdasarkan Relative Value Unit (UC 1,2,3) dan Activity Based Costing  yang terbesar yakni  Hysterectomy dan yang terkecil adalah Reparasi Fistel begitupun dengan Cost sharing masing – masing tindakan. Dimana besaran selisih ini mengikuti Presentase dana bantuan komando dan YANKES MASUM untuk seluruh pelayanan di Rumah Sakit Pelamonia.

5.       Untuk rumah sakit yang lengkap kegiatan administrasinya maka metode Relative Value  Unit merupakan suatu Metode yang cocok di gunakan untuk menghitung biaya satuan,. Tetapi bagi rumah sakit yang tidak lengkap maka metode Activity Based Costing yang cocok untuk di gunakan karena hanya menggunakan bahan habis pakai dan alat kesehatan yang di gunakan perjenis tindakan.

6.       Pertimbangan penentuan tarif dengan metode  RVU dan ABC. UC1 dipergunakan sebagai dasar penentuan tarif bagi rumah sakit swadana penuh atau rumah sakit swasta yang biaya investasi dan gaji pegawainya ditanggung penuh oleh rumah sakit tersebut. Untuk rumah sakit pemerintah dimana biaya Fixed Cost dan Semivariabel Cost seluruhnya ditanggung oleh pemerintah maka untuk menentukan tarif mempertimbangkan UC2. UC3 dan ABC dapat digunakan sebagai dasar dalam penentuan tarif rumah sakit swadana dan juga dapat pula dijadikan pertimbangan oleh pemerintah dalam menentukan besarnya biaya subsidi pemerintah terhadap rumah sakit tersebut.

7.       Tarif yang berlaku sekarang berada antara Unit cost 2 dan Unit cost 3 dan ABC

SARAN

1.     Untuk dapat menekan komponen total biaya (total cost) maka pihak manajemen rumah sakit perlu melakukan efisiensi terhadap pengeluaran biaya tetap (pembelian alat medis dan non medis) dan terutama pada biaya operasional tetap (gaji dan biaya pemeliharaan) dan biaya operasional tidak tetap (bahan habis pakai alat medis dan non medis) di RS Pelamonia Makassar

2.     Disarankan agar pihak rumah sakit menggunakan sistem informasi manajemen (SIM) karena kedua pendekatan sistem ini RVU dan ABC menggunakan bahasa program   sehingga pihak manajemen dapat mengawasi secara langsung sistem keuangan rumah sakit. Kesulitan terbesar dalam melakukan analisis biaya adalah pengumpulan data, karena itu untuk mendukung pelaksanaan perhitungan analisis biaya selanjutnya sebaiknya sistim pencatatan dan pelaporan rumah sakit harus dikelola secara profesional dan transparan sesuai dengan petunjuk teknis yang ada.

3.     Analisis biaya satuan berdasarkan Activity Based Costing ini idealnya hanya berlaku untuk satu tahun anggaran saja karena dapat terjadi perubahan-      perubahan pada harga bahan  maupun jumlah bahan yang dipakai oleh karena itu sebaiknya setiap tahun dilakukan pembaharuan pada analisis biaya satuan berdasarkan Activity Based Costing sehingga rumah sakit dapat menetapkan tarif yang sesuai.

4.     Dana bantuan dari pihak komando belum sepenuhnya dapat mencukupi kegiatan operasional rumah sakit sehingga selisih unit cost masih sangat tinggi diharapkan untuk penganggaran ditahun berikutnya sepenuhnya dapat terealisasi.

5.     Dana dari subsidi pemerintah selama ini yang diterima pihak Rumah Sakit Pelamonia tidak melalui pertimbangan analisis biaya. Sehingga pendanaan melalui pelayanan masyarakat umum (YANKES MASUM) sangat dirasakan perlu untuk menutupi biaya operasional di Kamar Operasi.

6.     Disarankan kepada pihak Rumah Sakit agar kiranya dapat melakukan perhitungan biaya yang tidak hanya terbatas pada Kamar Operasi saja tetapi seluruh unit produksi agar tarif yang berlakunya nantinya adalah tarif yang “real cost” sehingga semua pihak merasa di untungkan.

DAFTAR PUSTAKA

                     Pedoman Penulisan Tesis Dan Disertasi, Edisi 4 Program Pasca Sarjana, Universitas Hasanuddin, Makassar; 2005

Depkes RI, Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI. No.582/Menkes/SK/VI/1997, Tentang Pola Tarif Rumah Sakit Pemerintahan

Depkes RI. Indonesia Sehat 2010: Visi Baru, Misi, Kebijakan dan Strategi Pembangunan Kesehatan. Jakarta: Departemen Kesehatan RI; 1999.

Depkes RI. Standar Pelayanan Rumah Sakit. Jakarta: Direktorat Jendral Pelayanan Medik RS Umum dan Pendidikan; 1999.

Maidin Alimin, Sriyana Makkasau, Kasman, Laporan Sementara Analisis Biaya Satuan (Unit cost) Pelayanan Kesehatan Rumah Sakit Wahidin Sudirohusodo Makassar, 2004

Amin WidjajaTunggal, Activy Based Costing. Edisi Revisi, Jakarta, 2000

Gani, Ascobat, Model Pembiayaan Dalam Menunjang Mutu Pelayanan Rumah Sakit Menjawab Tentang AFTA 2003, Temu Karya Manajemen Peningkatan Mutu Pelayanan Rumah Sakit Dalam Menjawab Tantangan AFTA 2003, Surabaya, 2000

Garrison RH. Noreen EW. Akuntansi Manajerial. Edisi 1. Buku I. Jakarta: Salemba Empat; 2000.

Maidin Alimin, Razak Amran, Ekonomi Kesehatan, Makassar. CMB dan FKM UNHAS 1995

Maidin Alimin, Buku 1 : Pelatihan Analisis Biaya Dan Penyesuaian Tarif Pelayanan Kesehatan Rumah Sakit/Puskesmas, Laboratorium Komputer AKK Fakultas Kesehatan Masyrakat  UNHAS, Makassar, 2000

Mulyadi, Akuntansi Biaya, Cetakan II, Yogyakarta : STIE YKPN, 1992

Notoatmodjo, S, Metode Penelitian Kesehatan, Jakarta: Rineka Cipta, 2002

Pudjiraharjo, W, J, Analisis Biaya Satuan  Dan Penyesuaian Tarif Pelayanan Rumah Sakit, Surabaya: Administrasi Kesehatan Masyarakat FKM UNAIR, 1998

Pusat Manajemen Pelayanan Kesehatan Fakultas Kedoteran – UGM, Activity Based Costing, Lokakarya Nasional 20 – 22 Maret 2003

Rayburn LG. Akuntansi Biaya: dengan Menggunakan Pendekatan Manajemen Biaya. Edisi 6. Jilid I. Jakarta: Erlangga; 1999.

Sabarguna BS.  Manajemen Keuangan Rumah Sakit. Yogyakarta: Konsorsium Rumah Sakit Islam Jateng; 2003.

Simamora H. Akuntansi Manajemen. Edisi 2. Jakarta: UPP YKPN; 2002.

Soejitno S. Reformasi Perumah Sakitan Indonesia. Jakarta: Departemen Kesehatan RI; 1999.

Trinastoro L. Memahami Penggunaan Ilmu Ekonomi dalam Manajemen Rumah Sakit. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press; 2004.

Tunggal AW. Activity-based Costing dan Activity-based Management. Jakarta: Harvarindo; 2001.

About these ads

Satu Balasan ke Analisis Pendekatan Relative Value unit Versus Activity Based Costing (ABC) di kamar Operasi Rumah Sakit Pelamonia Makassar Tahun 2005

  1. amalia mengatakan:

    dapatkah saya memperoleh contoh perhitungan AIC dan ABCnya?

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: